Kamis, 20 Mei 2021

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS



1.Anak Berkebutuhan Khusus dengan Hambatan Sensorik
  • Anak dengan Hambatan Penglihatan (Tunanetra). Klasifikasi gangguan penglihatan berdasarkan tingkat ketajaman dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok low vision dan hambatan penglihatan total (Totally Blind).
  • Anak dengan Hambatan Pendengaran (Tunarungu). Pengelompokkan (klasifikasi) bagi anak yang mengalami hambatan pendengaran yang saat ini digunakan pada umumnya menurut Kirk (dalam Depdikbud, 1995:29) dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1) 0 dB Menunjukkan pendengaran yang optimal. (2) 0 – 26 dB Menunjukkan seseorang masih mempunyai pendengaran yang normal (3) 27 – 40 dB Mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi bicara (tergolong tunarungu ringan). (4) 41 – 55 dB Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara (tunarungu sedang) (5) 56 – 70 dB Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat bantu mendengar serta dengan cara yang khusus (tunarungu agak berat). (6) 71- 90 dB Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang – kadang dianggap tuli, membutuhkan pendidikan luar biasa yang intensif, membutuhkan alat bantu dengar dan latihan bicara secara khusus (tunarungu berat). (7) 91 dB ke atas mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan daripada pendengaran untuk proses menerima informasi dan yang bersangkutan dianggap tuli (tunarungu berat sekali)
2.Anak dengan Hambatan Mental Kognitif
  • Anak dengan Hambatan Intelektual (Tunagrahita). (1) Hambatan Intelektual Ringan : IQ antara kisaran 50 s/d 70 dan juga termasuk kelompok mampu didik, mereka masih bisa dididik (diajarkan) membaca, menulis dan berhitung. bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD Umum. (2) Hambatan Intelektual Sedang  : IQ antara 30 s/d 50. biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas 2 SD Umum. (3) Hambatan Intelektual Berat : IQ mereka rata-rata 30 ke bawah. Dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan bantuan orang lain.
3. Anak dengan Hambatan Fisik
  • Anak dengan Hambatan Anggota Gerak (Tunadaksa). Pada dasarnya anak gangguan gerak dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) Kelainan pada sistem serebral (cerebral system) dan (2) kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system). Adapun yang termasuk kelompok pertama, seperti cerebral palsy yang meliputi jenis spastic, athetosis, rigid, hipotonia, tremor, ataxia, dan campuran. Sedangkan yang termasuk pada kelompok kedua, seperti poliomyelitis, muscle dystrophy dan spina bifida.
4. Anak dengan Hambatan Lainnya
  • Anak dengan Gangguan Perilaku dan Emosi. Di dalam dunia Pendidikan Khusus dikenal dengan nama anak hambatan perilaku dan emosi (behavioral disorder). Kelainan tingkah laku ditetapkan bila mengandung unsur: (1) Tingkah laku anak menyimpang dari standar yang diterima umum. (2) Derajat penyimpangan tingkah laku dari standar umum sudah ekstrim. (3) Lamanya waktu pola tingkah laku itu dilakukan. Secara umum anak hambatan perilaku dan emosi (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku) memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) Cenderung membangkang. (b) Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah. (c) Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu. (d) Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum. (e) Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering bolos jarang masuk sekolah.
  • Anak Autis. Secara umum anak autis memiliki karakteristik sebagai berikut.  (1) Mengalami hambatan di dalam bahasa.  (2) Kesulitan dalam mengenal dan merespon emosi dengan isyarat sosial.  (3) Kekakuan dan miskin dalam mengekspresikan perasaan.  (4) Kurang memiliki perasaan dan empati.  (5) Sering berperilaku di luar kontrol dan meledak-ledak.  (6) Secara menyeluruh mengalami masalah dalam perilaku.  (7) Kurang memahami akan keberadaan dirinya sendiri.  (8) Keterbatasan dalam mengekspresikan diri.  (9) Berperilaku monoton dan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
  • Anak Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa. beberapa karakteristik yang paling sering diidentifikasi terdapat pada anak berbakat istimewa (a). Menunjukkan atau memiliki ide-ide yang orisinal, gagasan-gagasan yang tidak lazim, pikiran-pikiran kreatif. (b). Mampu menghubungkan ide-ide yang nampak tidak berkaitan menjadi suatu konsep yang utuh. (c). Menunjukkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi. (d). Mampu menggeneralisasikan suatu masalah yang rumit menjadi suatu hal yang sederhana dan mudah dipahami. (e). Memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah.(f). Menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa. (g). Memiliki perbendaharaan kosakata yang sangat kaya dan mampu mengartikulasikannya dengan baik. (h). Biasanya fasih dalam berkomunikasi lisan, senang bermain atau merangkai kata-kata. (i). Sangat cepat dalam memahami pembicaraan atau pelajaran yang diberikan. (j). Memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory) yang kuat. (k). Mampu menangkap ide-ide abstrak dalam konsep matematika dan/atau sains. (l). Memiliki kemampuan membaca yang sangat cepat.
  • Kesulitan Belajar Spesifik (Disleksia, Diskalkulia, Disgrafia) . Adapun karakteristiknya dapat diidentifikasi dari hal-hal berikut ini. PDBK yang mengalami kesulitan membaca (disleksia) (a) Perkembangan kemampuan membaca terlambat, (b) Kemampuan memahami isi bacaan rendah, (c) Kalau membaca sering banyak kesalahan. PDBK yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia) (a) Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai, (b) Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan5, 6 dengan 9, dan sebagainya, (c) Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca, (d) Tulisannya baonyak salah/terbalik/huruf hilang, (e) Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris. PDBK yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) (a) Sering salah menulis angka 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya (b) Rancu atau bingung dengan simbol-simbol matematis. Misalnya tanda +, -, x, :, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Simple Past Tense

  The Past Simple Tense is used to refer to actions that were completed in a time period before the present time Using the Simple Past T...