Rabu, 09 Juni 2021

Format Program Pembelajaran Individual (PPI)

Seperti yang telah diketahui bahwa PPI adalah rencana pengajaran yang buat untuk satu orang peserta didik yang berkebutuhan khusus atau yang memiliki kecerdasan/bakat istimewa. Rencana program Pembelajaran Individual dikhususkan bagi individu yang memang tidak memungkinkan menggunakan kurikulum reguler maupun modifikasi. Tingkat kebutuhan pelayanan khususnya termasuk sedang atau agak berat. Mereka diberikan kurikulum PPI yang dikembangkan oleh tim sekolah, orangtua, dan profesi lain.

PPI merupakan program yang dinamis yang berarti sensitif terhadap berbagai perubahan dan kemajuan peserta didik, dan disusun oleh tim yang terdiri dari orang tua/wali murid, guru kelas, guru mata pelajaran, guru pendidikan khusus/PLB, dan peserta didik yang bersangkutan yang disusun secara  bersama-sama. Sebenarnya,  PPI mesti disusun oleh  tim terdiri dari Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Tenaga ahli dan Profesi terkait, orang tua/wali murid, guru kelas, guru mata pelajaran dan guru pendidikan khusus/PLB, serta peserta didik yang bersangkutan.

Nah, secara garis besar  komponen Program Pembelajaran Individual   meliputi :

1) Deskripsi tingkat kecakapan/kemampuan saat ini (performance levels)

2) Sasaran program tahunan/tujuan pengajaran tahunan ( longrange or annual goals)

3) Sasaran belajar jangka pendek (shortterm objectives)

4) Diskripsi pelayanan(Description of services)

5) Tanggal pelayanan (Dates of service)

6) Penilaian (Evaluation)

Setelah mengetahui komponen-komponen PPI maka bisa digambarkan contoh format penulisan atau pembuatan PPI adalah sebagai berikut :

sumber: tugas guru belajar seri pendidikan inklusif

Format diatas tidak baku, dapat diubah sesuai dengan kebutuhan☺



Sabtu, 29 Mei 2021

Komponen PPI (Program Pembelajaran Individual)

 


Pada catatan sebelumnya  sudah membahas pengertian dan dan fungsi Program Pembelajaran Individual pada pendidikan Inklusif. Pada catatan kali ini saya akan mereview komponen – komponen yang harus ada dalam Program Pembelajaran Individual. Nah mengutip dari modul belajar pendidikan Inlusif yang telah saya ikuti, secara garis besar komponen Program Pembelajaran Individual meliputi :

1) Deskripsi tingkat kecakapan/kemampuan saat ini (performance levels)

tingkat kemampuan/kecakapan yang diketahui setelah dilakukan asesmen, sehingga guru kelas dapat mengetahui kekuatan, kelemahan dan kebutuhan pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang bersangkutan. Informasi ini umumnya berkaitan dengan kemampuan akademik, pola perilaku khusus, keterampiln menolong diri, bakat voksional, dan kemampuan berkomunikasi

2) Sasaran program tahunan/tujuan pengajaran tahunan ( longrange or annual goals) 

Komponen ini merupakan kunci komponen pembelajaran karena dapat memperkirakan program jangka panjang selama kegiatan sekolah dan dapat dipecah-pecah menjadi beberapa sasaran. Kerjasama antara guru dan orangtua perlu dilakukan sehingga tujuan pembelajaran lebih realis.

dalam merumuskan tujuan PPI hrus memperhatikan empat kriteria yaitu:

  • dapat diukur -> pernyataan harus menggunakan kata kerja opersional (menyebutkan ,menjelaskan, mendefinisikan,mengidentifikasi, menulis dll) dan tidak menimbulkan penafsiran ganda (memahami, mengetahui, mengerti )
  • positif -> tujuan itu harus membawa perubahan ke arah positif (mis. “peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dpat merespon waktu dengan tepat” bukan “peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dapat bertahan menutup mulut”
  • orientasi pada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) > merumuskan apa yang dipelajari bukan apa yang peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) pikirkan (mis: siswa dapat menanggapi secara lisan pertanyaan dengan dua-tiga prase)
  • relevan -> sesuai dengan kebutuhan individu.

3) Sasaran belajar jangka pendek (shortterm objectives)

Sasaran belajar jangka pendek/tujuan jangka pendek harus dikonsep dan dikembangkan melalui analisa tugas, dipakai sebagai acuan dalam proses pembelajaran guna mencapai kemampuan yang lebih spesifik. Sasaran belajar ini harus dapat diamati, dapat diukur, berpusat pada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK), positif dan hendaknya mencerminkan pengajaran antara tingkat kecakapan dan tujuan akhir. Tujuan khusus mempunyai beberapa komponen yaitu ABCD (Audience – Behavior – Condition – Degree); misalnya Jika ditunjukkan empat warna (condition) Budi (audience) dapat menyebutkan nama-nama warna tsb (behavior) 100% benar (degree).  Anak diberi empat macam uang logam bernilai Rp.25,- , Rp.50,- . Rp.100,-dan Rp.500,-; dapat menentukan nilai tiap mata uang logam tsb dengan ketepatan seratus persen.

4) Diskripsi pelayanan(Description of services) 

Deskripsi meliputi : guru yang mengajar,  isi program pengajaran dan kegiatan pembelajaran,  alat yang dipergunakan.

5) Tanggal pelayanan (Dates of service)

 Dalam Program Pembelajaran Individual harus terdapat tanggal kapan pengajaran mulai dilaksanakan dan antisipasi lamanya pelayanan.

6) Penilaian (Evaluation) 

Penilaian terbagi dalam dua bagian yaitu:

  1. Penilaian untuk menentukan tingkat kecakapan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) saat ini, menjelaskan kekuatan dan kelemahan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) (assesment)
  2. Menilai keberhasilan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dalam mencapai tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan.

Prosedur penilaian dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan dan metodenya dapat melalui tes atau observasi.

Sepertinya PPI atau  Program Pembelajaran Individual mirip RPP pada proses pembelajaran reguler ya. 

Jumat, 28 Mei 2021

Fungsi Program Pembelajaran Individual

 

Seperti yang kita ketahui bersama anak berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak reguler untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah. salah satu cara untuk menyiapkan pelayanan tersebut adalah dengan membuatkan  Program Pembelajaran Individual. Nah pada artikel kali ini saya akan mengutip Fungsi Program Pembelajaran Individual dalam pendidikan Inklusif. ada 5 fungsi dari Program Pembelajaran Individual yaitu ;

  1. Untuk memberi arah pengajaran; dengan mengetahui kekuatan, kelemahan dan minat peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) maka program yang diindividualisasikan terarah pada tujuan atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan tahap kemampuannya saat ini.
  2. Menjamin setiap peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) memiliki suatu progrm yang diindividualkan untuk mempertemukan kebutuhan khs mereka dan mengkomunikasikan program tersebut kepada orang-orang yang berkepentingan.
  3. Meningkatkan keterampilan guru dalam melakukan asesmen tentang karakteristik kebutuhan belajar tiap peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dan melakukan usaha mempertemukan dengan kebutuhan-kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).
  4. Meningkatkan potensi untuk komunikasi antar atau dengan anggota tim, khususnya keterlibatan orang tua, sehingga sering beretemu dan saling mendukung untuk keberhasilan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dalam pendidikan
  5. Menjadi wahana bagi peningkatan usaha untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih efektif.
itulah fungsi Program Pembelajaran Individual. semoga bermanfaat☺☺

Kamis, 27 Mei 2021

Apakah Pengertian Program Pembelajaran Individual (PPI) dalam pendidikan Inklusif



Setelah mengikuti program Guru Belajar seri Pendidikan Inklusi maka saya mengutip dan menyimpulkan bahwa Program Pembelajaran Individual (PPI) dalam pendidikan Inklusi dikenal juga dengan The Individualized Education Program (IEP) yang diprakarsai oleh SAMUEL GRIDLEY HOWE tahun 1971, yang merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).  selain itu MERCER and MERCER (1989) mengemukakan bahwa “program pembelajaran individual menunjuk pada suatu program pembelajaran dimana peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) bekerja dengan tugas-tugas yang sesuai dengan kondisi dan motivasinya”.

Nah, Hal ini disebabkan karena perbedaan antara individu pada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) sangat beragam, sehingga layanan pendidikannya lebih diarahkan pada layanan yang bersifat individual, walaupun demikian layanan yang bersifat klasikal dalam batas tertentu masih diperlukan.

Jadi, Program Pembelajaran Individual harus merupakan program yang dinamis, yang artinya sensitif terhadap berbagai perubahan dan kemajuan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK), yang diarahkan pada hasil akhir yaitu kemandirian yang sangat berguna bagi kehidupannya, mampu berperilaku sesuai dengan lingkungannya atau berperilaku adaptif

Selain itu, PPI merupakan fungsi mata rantai terpadu antara asesmen dan pengajaran; jadi pengembangan PPI tergantung pada pengumpulan data asesmen. PPI memberi tekanan pada keterbatasan minimal, kesesuaian penempatan dan garis besar program pengajaran. Untuk itu PPI harus dievaluasi kemudian ditulis ulang dalam jangka waktu satu tahun, sepanjang layanan masih dibutuhkan.



Senin, 24 Mei 2021

Koreksi dan Tindakan Koreksi

ta



bingung bedain koreksi dan tindakan koreksi, maka googling lah saya, trus baca-baca artikel di  maka dapat diambil kesimpulan / rangkuman perbedaan koreksi dan tindakan koreksi sebagai berikut;

 Koreksi

 Koreksi dirumuskan setelah ketidaksesuaian terjadi atau setelah kondisi tidak diinginkan terjadi. Fokus tindakan koreksi adalah menghilangkan atau meminimalisir akibat dari suatu ketidaksesuaian. Koreksi adalah tindakan untuk menghilangkan ketidaksesuaian yang telah terjadi atau ditemukan. Tindakan koreksi bersifat memperbaiki secara langsung, misalnya: rework, regrade, dan sebagainya.

Tindakan Koreksi

 Tindakan koreksi akan berfokus pada penyebab (akar penyebab masalah) dari suatu keadaan yang telah terjadi. Tindakan koreksi merupakan jawaban untuk mengobati “akar penyakit”. Tindakan ini dirumuskan setelah terjadinya ketidaksesuaian atau setelah kondisi yang tidak diinginkan terjadi.

Tindakan koreksi memiliki tujuan khusus yakni untuk menghilangkan penyebab dari ketidaksesuaian yang telah terjadi atau bersifat menghilangkan penyebab dari kondisi tidak diinginkan yang telah terjadi. Tindakan koreksi diharapkan dapat mencegah ketidaksesuaian yang sama (kondisi tidak diinginkan yang sama) agar tidak terjadi lagi / terulang kembali di kemudian hari.

 Jadi, Koreksi dirumuskan setelah ketidaksesuaian terjadi atau setelah kondisi tidak diinginkan terjadi sedangkan Fokus tindakan koreksi adalah menghilangkan atau meminimalisir akibat dari suatu ketidaksesuaian.


Sabtu, 22 Mei 2021

KEBUTUHAN PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS


 

Anak dengan Hambatan Penglihatan (Tunanetra)

Layanan khusus dalam pendidikan bagi anak dengan gangguan penglihatan yaitu dalam membaca menulis dan berhitung diperlukan huruf Braille bagi yang hambatan penglihatan total. Bagi yang masih memiliki sisa penglihatan diperlukan kaca pembesar atau huruf cetak yang besar, media yang dapat diraba dan didengar atau diperbesar

Anak dengan Hambatan Pendengaran (Tunarungu)

Kebutuhan pembelajaran peserta didik hambatan pendengaran menurut Gunawan (2011) secara umum tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Akan tetapi, mereka memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran antara lain: 1) Tidak mengajak anak untuk berbicara dengan cara membelakanginya. 2) Anak hendaknya didudukkan paling depan, sehingga memiliki peluang untuk mudah membaca bibir guru. 3) Perhatikan postur anak yang sering memiringkan kepala untuk mendengarkan. 4) Dorong anak untuk selalu memperhatikan wajah guru, bicaralah dengan anak dengan posisi berhadapan dan bila memungkinkan kepala guru sejajar dengan kepala anak. 5) Guru bicara dengan volume biasa tetapi dengan gerakan bibirnya yang harus jelas. 

Anak dengan Hambatan Intelektual (Tunagrahita)

Secara umum kebutuhan pembelajaran anak anak mengalami hambatan intelektual adalah sebagai berikut. 1) Perbedaan anak mengalami hambatan intelektual dengan anak normal dalam proses belajar adalah terletak pada hambatan dan masalah atau karakteristik belajarnya. 2) Perbedaan karakteristik belajar anak anak mengalami hambatan intelektual dengan anak sebayanya, anak anak mengalami hambatan intelektual mengalami masalah dalam hal yaitu: a) Tingkat kemahirannya dalam memecahkan masalah b) Melakukan generalisasi dan mentransfer sesuatu yang baru c) Minat dan perhatian terhadap penyelesaian tugas


Anak dengan Hambatan Gerak Anggota Tubuh (Tunadaksa)


Secara umum kebutuhanpendidikan bagi anak tunadaksa diarahkan pada dua hal, yakni mengatasi permasalahan akibat kecacatannya dan menyiapkan anak agar memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ada  tujuh aspek  yang  perlu  dikembangkan  pada  diri  anak  tunadaksa,  yaitu: (1)  Pengembangan  Intelektual  dan  Akadmeik, (2)  Membantu  perkembangan fisik, (3)  Meningkatkan perkembangan emosi & penerimaan diri, (4)  Mematangkan aspek sosial, (5)  Mematangkan moral dan spiritual, (6)  Meningkatkan ekspresi diri, dan (7)  Mempersiapkan masa depan anak

Kebutuhan Pembelajaran Anak dengan Hambatan Perilaku dan Emosi 

Kebutuhan pembelajaran bagi anak hambatan perilaku dan emosi yang harus diperhatikan oleh guru antara lain adalah: 1) Mengetahui strategi pencegahan dan intervensi bagi individu yang beresiko mengalami gangguan emosi dan perilaku. 2) Menggunakan variasi teknik yang tidak kaku dan keras untuk mengontrol tingkah laku target dan menjaga atensi dalam pembelajaran. 3) Menjaga rutinitas pembelajaran dengan konsisten, dan terampil dalam problem solving dan mengatasi konflik. 4) Merencanakan dan mengimplementasikan reinforcement secara individual dan modifikasi lingkungan dengan level yang sesuai dengan tingkat perilaku. 5) Mengintegrasikan proses belajar mengajar (akademik), pendidikan afektif, dan manajemen perilaku baik secara individual maupun kelompok. 6) Melakukan asesmen atas tingkah laku sosial yang sesuai dan problematik pada siswa secara individual.7) Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan)bagi setiap anak. 8) Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi oleh setiap anak. 9) Adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat anak. 10) Perlu adanya pengembangan akhlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari, dan contoh dari lingkungan.

Kebutuhan Pembelajaran Anak Cerdas dan Bakat Istimewa 

Kebutuhan pembelajaran bagi anak cerdas istimewa dan bakat istimewa adalah sebagai berikut. 1) Program pengayaan horisontal, meliputi: (a) Mengembangkan kemampuan eksplorasi. (b) Mengembangkan pengayaan dalam arti memperdalam dan memperluas hal-hal yang ada di luar kurikulum biasa. (c) eksekutif intensif dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program intensif bidang tertentu yang diminati secara tuntas dan mendalam dalam waktu tertentu. 2) Program pengayaan vertikal, yaitu: (a) Acceleration, percepatan/maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai dengan kemampuannya, dan jangan dibatasi oleh jumlah waktu, atau tingkatan kelas. (b) Independent study, memberikan seluas-luasnya kepada anak untuk belajar dan menjelajahi sendiri bidang yang diminati. (c) Mentorship, memadukan antara yang diminati anak gifted dan tallented dengan para ahli yang ada di masyarakat.

Kebutuhan Pembelajaran Anak dengan Hambatan Autism 

Kebutuhan pembelajaran bagi anak anak autis adalah sebagai berikut: 1) Diperlukan adanya pengembangan strategi untuk belajar dalam seting kelompok. 2) Perlu menggunakan beberapa teknik di dalam menghilangkan perilakuperilaku negatif yang muncul dan mengganggu kelangsungan proses belajar secara keseluruhan (stereotip). 3) Guru perlu mengembangkan ekspresi dirinya secara verbal dengan berbagai bantuan. 4) Guru terampil mengubah lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi anak, sehingga tingkah laku anak dapat dikendalikan pada hal yang diharapkan.

Kebutuhan Pembelajaran Anak dengan Hambatan Kesulitan Belajar Spesifik 

Peserta didik yang mengalami hambatan belajar spesifik (disleksia, diskalkulia, disgrafia) perlu adanya intervensi yang melibatkan seluruh indera dalam proses belajar mengajarnya. Salah satu teknik yang dapat diterapkan adalah teknik multi sensori. Alasan dari teknik ini karena saluran pembelajaran visual, auditori dan taktilkinestetik semua digunakan secara berkesinambungan. Teknik multisensori juga melibatkan proses anak dalam hal (1) mengulang suara yang didengar; (2) merasakan bentuk yang dibuat bunyi di mulut; (3) membuat bunyi dan mendengarkan; dan (4) menulis huruf.

source : https://gurubelajar-inklusif.simpkb.id/

Simple Past Tense

  The Past Simple Tense is used to refer to actions that were completed in a time period before the present time Using the Simple Past T...